REVIEW BUKU
STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
MITOS DAN KARYA SASTRA
KARYA: HEDDY SHRI AHIMSA PUTRA
Tugas Mata Kuliah: Teori Budaya
Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil.
Oleh:
HENI VERAWATI
09/291347/PMU/6093
PROGRAM STUDI PASCASARJANA
KAJIAN TIMUR TENGAH
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2009
STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
MITOS DAN KARYA SASTRA
KARYA: HEDDY SHRI AHIMSA PUTRA
BAB I: BIOGRAFI DAN KARIR CLAUDE LEVI-STRAUSS
Claude Levi-Strauss adalah ahli antropologi berkebangsaan Prancis, Dia lahir di Brussles, Belgia pada tanggal 28 November 1905. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss dan ibunya bernama Emma Levy.
Sebenarnya minat utama Levi-Strauss semula bukanlah antropologi. Di masa mudanya dia lebih banyak membaca buku hukum dan filsafat, karena pada tahun 1927 Levi-Strauss masuk fakultas hukum paris dan pada saat yang sama juga belajar filsafat di Universitas Sorbone ( Ahimsa-Putra 2009:8). Pada tahun 1923 Levi-Strauss menikah dengan Dina Dreyfus. Dan pada tahun yang sama Levi-Strauss memasuki dinas militer dan pada tahun ini pula Levi-Strauss memperoleh posisi sebagai pengajar di Mont de-Marsan Lycee (Ahimsa-Putra 2009:9).
Pada tahun 1935 Levi-Strauss berangkat dari Marseile menuju Brazil. Di sana dia menjadi pengajar di universitas sao paolo dalam bidang sosiologi. Selama mengajar inilah levi-strauss mendapatkan kesempatan untuk berekspedisi ke daerah pedalaman Brazil serta mengunjungi berbagai suku Indian yang belum terjamah peradaban.
Dari ekspedisi dan pengalaman batinya inilah lahir sebuah karya semacam laporan perjalanan plus otobiografi yang mengesankan, yang membutnya terkenal di negerinya, Prancis, Tristes Tropique. Buku in menjadi semacam ethnographic baptism bagi Levi-Strauss (Ahimsa-Putra 2009:11). Dalam buku ini levi-Strauss bertutur dengan bahasa yang memikat, menyentuh rasa kemanusiaan tentang kisah-kisah tragis suku Indian di belantara amazon sehingga namanya tidak hanya dikenal di kalangan akademisi tetapi juga khalayak luas masyarakat.
Setelah dua kali pencalonan yang gagal yaitu pada tahun 1949 dan 1950, akhirnya levi-Strauss disetujui diangkat untuk menjadi guru besar antropologi sosial di College de France (Ahimsa-putra 2009:16).
BAB II: STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
Srukturalisme Levi-Strauss secara implisit menganggap teks naratif, seperti mitos, sejajar atau mirip dengan kalimat berdasarkan dua hal. Pertama, teks tersebut adalah sesuatu yang mewujudkan, mengekspresikan, keadaan pemikiran seseorang, seperti halnya sebuah kalimat memperlihatkan atau mengejawantahkan pemikiran seorang pembicara. Makna teks naratif tersebut lebih dari sekedar makna yang dapat ditangkap dari kalimat-kalimat tunggal yang membentuk teks tersebut, sebab kita bisa saja memahami makna kalimat-kalimat ini, tetapi tidak dapat menangkap makna keseluruhan teks. Kedua, teks tersebut memberikan bukti bahwa dia diartikulasikan dari bagian-bagian, sebagaimana kalimat-kalimat yang diartikulasikan oleh kata-kata yang membentuk kalimat tersebut (Ahimsa –Putra 2009:31).
Paradigm structural yang dikembangkan levis-strauss berbeda dengan strukturalisme beberapa tokoh strukturalis, meski levi-strauss sendiri pernah mengatakan banyak diilhamioleh pandangan dari karl max dan Sigmund freud. Antropologi structural levi-strauss banyak dipengaruhi oleh linguistik. Ada beberpa asumsi dasar untu memahami strukturalisme levi-strauss.
Pertama, dalam strukturalisme ada anggapan bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya, seperti dongeng, upaacara-upacara, sistem kekerabatan dan pola tempat tinggal, pakaian dan sebagainya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa atau lebih tepatnya merupakan perangkat tanda dn symbol yang menyampaikan pesan tertentu. Oleh karena itu terdapat ketertataan (order) serta keterulangan (regularities) pada berbagai fenomena terebut (Ahimsa-Putra 2009:66).
Kedua,dalam struktralisme ada anggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis-sehingga kemampuan iniada pada semua orang yang ‘normal’- yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyusun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Adanya kemampuan ini membuat manusia (selah-olah) dapat melihat struktur di balik berbagai macam gejala (Ahimsa putra 2009:67).
Ketiga, suatu istilah ditentukan maknanya –mengikuti saussere- oleh relasi-relasinya pada suat titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis, dengan istilah-istilah yang lain, para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut (Ahimsa-Putra 2009:68).
Keempat, relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). Oposisi ini dapat dibedakan menjadi dua yakni ekslusif dan tidak ekslusif . contoh oposisi pertama adalah: menikah dan tidak menikah. Contoh oposisi kedua adalah: air-api, siang-malam.
BAB III : LEVI-STRAUSS DAN MITOS
Mitos dalam konteks strukturalisme levi-strauss tidak lain adalah dongeng. Pengertian mitos dalam strukturalime levistrauss berbeda dengan pengertian mitos yang biasa digunakan dalam kajian mitologi.
Dongeng merupakan sebuah kisah atau cerita yang lahir dari imajinasi manusia, dari khayalan manusia, walaupun unsure-unsur khayalan tesebut berasal dari apa yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dalam dongeng inilah khyalan manusia memperoleh kebebasan mutlak, karena disitu tidak ada larangan bagi manusia untuk menciptakan dongeng apa saja (Ahimsa-Putra 2009:77).
Tidak seperti ahli mitologi dan antropologi lainya yang tidak menyinggung sama sekali soal persentuhan antara bahasa dan mitos, Levi-Strauss menganalisis mitos-mitos dengan menggunakan model-model linguistik. Menguraikan dengan agak mendalam ciri-ciri bahasa yang dianggapnya sama dengan mitos. Metode analisis linguistik strktural.
Ada beberapa persamaan yang dilihat Levi-Strauss antara bahasa dan mitos. Pertama, bahasa adalah sebuah media, alat atau sarana untuk berkomunikasi, untuk menyampaikan pesan dari satu individu ke individu lainya, dari kelompok satu ke kelompok lain. Demikian juga mitos. Mitos disampaikan melalui bahasa dan mengandung pesan-pesan. Pesan dalam mitos diketahui lewat penceritaan seperti halnya dalam bahasa. Kedua, sebagaimana dalam bahasa –mengikuti saussere- yang memiliki aspek langue dan parole, levi-strauss juga melihat mitos sebagai fenomena memiliki dua aspek tersebut. Di mata strauss parole adalah aspek statistical dari bahasa, yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara konkrit, sedang aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek sturkturalnya (Ahimsa-Putra 2009:80).
Selain persamaan-persamaan, antara mitos dan bahasa juga terdapat perbedaan. Satu hal penting yang membedakan mitos dengan bahasa adalah bahwa mitos mempunyai cirri yang khas dalam hal isi dan susunannya, yaitu sifat atau cirri-ciri mitisnya (mythical characteristics).
Mitos sebagai bahasa dengan demikian memilki tatabahasanya sendiri, untuk mengungkapkan tatabahsa ini levi-strauss menganalisis unsur terkecil dari bahsa mitos, yakni mytheme. Mytheme menurut strauss adalah unsur-unsur wacana mitis (mythical discourse), yang juga merupakan satuan-satuan yang bersifat kosokbali (oppositional), relative, dan negative.oleh karena itu dalam menganalisa mitos , makna yang ada dalam cerita harus dipisahkan makna dari miteme, yang juga berupa berupa kalimat atau rangkaian kata-kata cerita tersebut.
BAB IV : LEVI-STRAUSS DAN ANALISIS STRUKTURAL
Levi-Strauss bukanlaah orang pertama yang menganalisa mitos secara structural. Beberapa ilmuwa pendahulunya telah merintis jalan tersebut sebelumnya. Namun menurut levi-Strauss hanya ada tiga orang yang dianggapnya sebagai tokoh strukturalisme tulen di perancis, yakni Benveniste, Dumezil dan dirinya sendiri. Pengunaan analisis strukturalnya terhadap fenomena kekerabatan dan perkawinan , mitos, totemisme, dan topeng merupakan bukti yang sulit di bantah bahwa levi-Strauss adalah tokoh yang paling maju, paling konsisten, serta paling yakin dengan paradigm strukturalnya (Ahimsa-Putra 2009:99).
Kisah tentang Oedipus adalah adalah penjelajahan structural levi-strauss dalam menganalisa mitos (ahimsa-putra 2009:100). Dalam menganalisis kisah Oedipus, levi-staruss beranggapan bahwa mitos dapat dipenggal menjadi segmen-segmen atau peristiwa-peristiwa , dan setiap orang yang mengetahui mitos tersebut sependapat mengenai segmen atau pertistiwa ini. Setiap segmen harus dapat memperlihatkan relasi antar individu yang merupakan tokoh-tokoh dalam peristiwa tersebut, atau menunjuk pada status-status dari individu-individu di situ. Segmen inilah yang disebut mytheme. Jadi sewaktu menganalisis perhatian harus diarahkan pada mitem , pada relasi-relasi dan status-status tersebut . sementara tokoh-tokohnya bisa saja mengalami pergantian (Ahimsa-Putra 2009:102).
Dari relasi antara miteme itulah terlihat adanya jalinan mitos-mitos yang dianalisa yang di analisa oleh levi-strauss.
Levi-strauss mengatakan bahwa mitos pada dasarnya berhadapan dengan sebuah masalah.untuk memecahkan masalah ini nalar mitis kemudian menyandingkan dengan msalah-masalah yang lain sekaligus, dan kemudian menunjukan bahwa masalah-masalah tersebut analogous atau mirip satu sama lain (Ahimsa-Putra 2009:158).
Meski levi strauss telah dianggap dewa dalam bidangnya ini, namun tentunya hal ini tidak menjadi penghalang bagi orang yang menkui bidang serupa untuk mengkrtisinya tanpa kehilangan respek dan kagum pada paradigma strukturalnya.
BAB V : ANALISIS STRUKTURAL DONGENG BAJO
Orang bajo hidup tersebar dan mengembara di lautan luas tidak hanya di kawasan Indonesia, tetapi juga di perairan asia tenggara. Ada yang berpendapat orang bajo berasal dari Malaysia (Sather, 1975, 1978); ada juga yang berpendapat orang bajo berasal dari daerah wajo, di Sulawesi selatan(Soesangobeng,1977). Orang bajo banyak meleatkan harinya di lautan dengan hidup dalam kelompok-kelompo kecil, menggunakan perahu untuk berpindah-pindah adari satu pantai ke pantai lainya di kepulauan nusantara.
Menganalisa dongeng bajo secara structural cukup berbeda dengan cara anlisa levi strauss menganalisa kisah Oedipus maupun kisah yunani lainya. Yang tidak membagi dongeng-dongeng ke dalam beberapa episode. Dalam kisah bajo dongeng dibagi ke dalam beberapa episode dengan terlebih dahulu membaca keseluruhan cerita agar mendapatkan kesan pengetahuan cerita tersebut. Setelah itu membaginya dalam beberapa episode.
Setiap episode ini umumnya berisi tentang deskripsi tindakan atau peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita . sebagaimana yang dikatakan oleh levi-strauss tindakan atau peristiwa ini – yang merupakan miteme- hanya dapat ditemukan pada tingkat kalimat.
BAB VI : SRI SUMARAH, BAWUK, DAN PARA PRIYAYI (SEBUAH ANALISA STRUKTURAL HERMENEUTIKA)
Metode yang digunakan dalam menganalisa ketiga novel diatas adalah analisa levi strauss sebagaimana yang didapatkan pada mitos-mitos Indian dari amerika. Namun tetap ada perbedaan mengingat objek analisanya juga berbeda. Dan berbeda pula dengan metode yang digunakan pada dongeng bajo. Pada bab ini menggabungkan analisis structural levi-strauss dengan pendekatan hermeneutika yang ditunjukan Clifford geertz (1973.) maka persepektif yang digunakan oleh penulis buku adalah sturuktural- hermeneutic (Ahimsa-Putra 2009:253).
Structural-hermeneutik selain mengungkapan struktur di balik yang tampak, mencoba memberikan tafsir lebih lanjut atas struktur tersebut serta hubunganya dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat (Ahimsa-Putra 2009: 296)
Beberpa hal yang dapat dicatat dari hasil analisis, pertama bahwa karya-karya sastra umar kayam yang diulas memiliki benang ceriteme yang terjalin satu sama lain sedemikian rupa sehingga karya-karya tersebut tampak sebagai sejumlah variasi yang bergerak di sekitar sebuah tema. Kedua, dalam beberapa karya umar kayam tersebut tersembunyi struktur-struktur tertentu yang sedikit banyak menjelaskan mengapa beberapa tokoh-tokoh tersebut jatuh ke lunbang-lubang nasib mereka. Struktur-struktur tersebut adalah struktur sejarah kehidupan dan struktur segitiga tegak dari tokoh-tokoh tersebut. Ketiga, kebebasan pengarang yang biasa dianggap sebagai sebuah kenyataan yang tak terbantah, ternyata tidak selamanya benar. Keempat, nilai jawa sak madya, tokoh mitis semar, sosok nyata umar kayam dan tokoh etnografis tun, bawuk dan hari dapat ditafsirkan sebagai perwujudan prinsip nalar jawa yang selalu berusaha menyeimbangkan dan menyatukan elemen-elemen berlawanan, pada tataran nilai, mitos, individu dan hasil karya individu.
BAB VII: PRIYAYI DALAM PRIYAYI
Dongeng para priyai merupakan kelanjutan dari upaya umar kayam untuk menjelaskan peristiwa yang dahsyat di Indonesia, yaitu G-30 S/PKI, yang telah memakan banyak jiwa. Sementara itu posisinya sebagai penulis juga tidak berubah . dia masih menjadi actor yang terlibat yang membuat tafsir atas segala sesuatu yang dilihat dan dialaminya dialaminya (ahimsa putra 2009 : 334).
Dalam konteks analisis ini dapat dikatakan bahwa realitas sosial budaya, karya sastra dan pemikiran umar kayam adalah system-sistem kode yang menjadi sarana sang sturktur untuk mengejawantahan dirinya (Ahimsa 2009: 334).
BAB VIII : MITOS DAN SINKRETISASI ISLAM DI JAWA
Islam di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri. Dengan berbagai ritus pola keberagaman yang cukup berbeda. Hal ini disebabkan akan beragamnya suku budaya di tanah air. Relasi antar sturuktur di dalamnya membentuk sebuah harmoni tersendiri.termasuk di dalamnya proses sinkretisasi.
Sinkretisasi oleh sebagian antropologi dianggap sebagai salah satu dari akultrasi, yakni, (1) penerimaan, (2)penyesuaian, (3) reaksi. Sinkretisasi adalah penyesuaian atau adaptasi yang dartkan sebagai sebuah proses menggabungkan, mengkombinasikan, unsur-,unsur asli dengan unsure-unsur asing ini munculah kemudian sebuah pola budaya baaru yang dikatakan sinkretis (Ahimsa 2009:338).
Mitos yang hidup dan berkembang dalam masyarakat jawa sebagaimana yang tercantum antara lain babad tanah jawi, di dalamnya terdapat struktur berpikir orang jawa.
Struktur pemikiran ini mencerminkan upaya kognitif orang jawa untuk menselaraskan dan menggabungkan berbagai elemen budaya pra-islam, budaya jawa dengan elemen budaya islam dlam suatu kerangka simbolis yang dapat mereka gunakan untuk menafsirkan, memahami dan emanfaatkan berbagai prinsip ajaran, prilaku dan lingkungan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.beberapa relasi yang dihasilkan orang jawa yang diwujudkan menjadi; (1) relasi genealogis, (2) relasi analogis, (3) relasi historis, (4) relasi profesis, (5) relasi kooperatif (Ahimsa 2009:371).
Islam mempunyai peranan penting dalam kebudayaan jawa, begitupun jawa dalam ranah pola keberagaman islam. Sehingga kelak akan menjadi prototype apa yang dinamakan islam rahmatan lil “alamin.
BAB IX: SAWERIGADING, DWI SRI, LARANGAN INCEST DAN KEKUASAAN
Sawerigading adalah mitos dari kalangan orang bugis makasar, dan mitos Dewi Sri berasala dari kalangan orang jawa. Kedua mitos ini sangat popular diantara pendukungnya. Ini terlihat antara lain dengan banyaknya versi sawerigading di masyarakat bugis dan dewi sri di masyarakat jawa. Ada beberapa alasan mengapa menganalisanya dengan analisa structural Levi-Strauss.
Pertama, bahwa paradigm ini sangat membantu peneliti memahami mitos dalam konteks budayayang lebih luas, dan akhirnya pemahaman atas budaya dan masyarakat pemilik mitos itu sendiri. Kedua, adanya konsep mytheme (miteme) yang mengacu unit-unit dalam sebuah mitos yang menunjukan relasi tertentu antara tokoh di situ (Levi-Strauss). Ketiga, adalah perhatian strauss pada fenomena pernikahan antar kelompok, pertukaran sosial, dan relasi-relasi kekerabatan, serta strategi analisis sosial ini dengan relasi-relasi lain dalam mitos (Ahimsa-Putra 2009:383).
Beberapa kesimpulan dapat ditarik dari analisa structural dan studi perbandingan mitos sawerigading dan dewi sri antara lain:
Pertama, atas dasar persamaanya mitos sawerigading dan dewi sri dapat dikatakan sebagai mitos-mitos tentang larangan incest. Kedua, pada mitos sawerigading kategori sosial individu yang dijadikan contoh kekerabatan adalah sepupu dengan memperhatikan status dan lapisan sosial. Sedangkan dalam dewi sri kategori sosial individu yang disarankan untuk tidak diambil jodoh adalah raksasa atau bukan kerabat atau orang yang berbeda latarbelakang sosial dan budaya, yang kurang baik watak dan prilakunya.ketiga,mitos sawerigading dapat dikatakan sebagai slah satu unsure budaya yang menguatkan dan melegitimasi pernikahan ktertentu. Demikian pula yang terjadi pada mitos dewi sri. Keempat jodoh yang ideal dalam kedua mitos itu terkait dengan konsepsi masyarakat tentang kekuasaan. Kelima, mitos sawerigading merupakan mitos politik, demikian juga pada mitos dewi sri (Ahimsa-Putra 2009:438).
BAB X: PENUTUP
Dengan analisa strukturalisme levi-Strauss ini kita dapat memahami gejala-gejala sosial-budaya yang berkembang di masyarakat. Ada beberapa catatan mengenai paradigm ini.
Pertama, levi-strauss menggunakan paradigma strukturalnya tidak hanya untuk menganalisa mitos, tetapi juga menganalisa gejala sosial-budaya lainya. Kedua, paradigma strukturalisme levi-Strauss bukanlah segala-galanya (Ahimsa-Putra 2009:444)
Terakhir,strukturalisme Staruss juga berupaya menjelaskan perubahan-perubahan dalam arti perbedaan-perbedaan antar kebudayaan, tetapi dengan menggunakan asumsi yang berlainan dengan sejarah yaitu diskontinuitas antar kebudayaan dan fenomena kebudayaan (Ahimsa-Putra 2009:450).
KOMENTAR BUKU:
KELEBIHAN
Penjelasan stukturalisme Levi-Strauss dalam buku ini cukup komprehensip dan mendetail ditambah dengan contoh analisa dari mitos dari tanah air cukup memudahkan bagi para peminat kajian ini.
KEKURANGAN
Dengan detail dan luasnya bahasan dalam kajian ini membutuhkan bahasa yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalamanya.
MANFAAT
Bermanfaat bagi siapa pun terutama bagi pemerhati kajian sosial-budaya.
REFRENSI
Ahimsa-Putra, Heddy Shri.2009, Strukturalisme Levi-strauss Mitos dan Karya Sastra


